Purwokerto, 26 September 2026 – Pendengar setia telah menjadi pilar utama dalam perjalanan 81 tahun Radio Republik Indonesia (RRI) yang diperingati pada tanggal 11 September 2026. Di usia yang ke-81 ini, RRI mengusung semangat "Suara Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur" dan terus membuktikan eksistensinya sebagai media yang dekat di hati masyarakat, mulai dari kawasan perkotaan hingga pelosok Nusantara.
RRI Purwokerto terus membuka ruang interaksi bersama masyarakat, khususnya para pendengar yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan siaran RRI. Salah satunya melalui kegiatan Meet and Greet bersama pendengar setia Pro 1 RRI Purwokerto yang digelar pada Kamis (24/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi RRI Purwokerto untuk bertemu secara langsung dengan pendengar yang selama ini lebih banyak berinteraksi melalui siaran radio. Pertemuan ini sekaligus menjadi ruang bagi pendengar untuk menyampaikan pengalaman, kesan, harapan, hingga masukan terhadap RRI di usia yang ke-81 tahun.
Salah satu pendengar yang hadir dalam kegiatan tersebut yakni Wawan, warga Banjarnegara berusia 54 tahun. Bagi Wawan, mendengarkan RRI bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang, melainkan kebiasaan yang telah menjadi bagian dari kesehariannya selama puluhan tahun.
“Kebetulan saya pencinta RRI sudah lama, kurang lebih dari 20 tahun yang lalu,” ujar Wawan.
Kecintaan tersebut juga membuat Wawan tetap memilih radio sebagai sarana utama untuk menikmati siaran RRI. Di tengah perkembangan teknologi yang membuat masyarakat semakin mudah mengakses informasi dan hiburan melalui telepon genggam, ia justru masih merasa nyaman menggunakan radio secara langsung.
“Saya langsung radio. Karena saya lebih suka dengerin di radio. Jadi, kita setiap pagi, siang, malam mendengarkan RRI. Saya sama istri suka dengerin radio,” ungkap Wawan.
Kebiasaan tersebut menjadi salah satu bentuk kedekatan yang membuat radio tetap memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan mereka.
Bagi Wawan, pilihan untuk tetap mendengarkan radio juga berkaitan dengan kebiasaan yang telah terbentuk sejak lama. Ia tidak sepenuhnya menolak perkembangan teknologi, termasuk penggunaan telepon genggam. Namun, dibandingkan menikmati berbagai konten melalui perangkat digital, radio dinilai memberikan pengalaman yang lebih dekat dan nyaman baginya.
“Mungkin karena saya tidak begitu suka dunia yang kayak handphone gitu. Ya, seneng tapi tidak begitu suka. Saya lebih suka mendengarkan radio. Karena sudah dari dulu jadi sudah menyatu, tidak bisa dipisahkan,” ungkapnya.
Selama menjadi pendengar RRI, Wawan memiliki sejumlah program yang biasa ia ikuti. Salah satunya adalah Dopokan Banyumas. Selain itu, ia juga menikmati program bernuansa religi, termasuk siaran pengajian pada pagi hari.
Namun, dari berbagai program yang didengarkannya, Wawan memiliki ketertarikan khusus terhadap siaran yang menggunakan bahasa Banyumasan. Menurutnya, program dengan bahasa daerah memberikan pengalaman tersendiri karena dekat dengan kehidupan dan budaya masyarakat di wilayah Banyumas dan sekitarnya.
“Dopokan Banyumas terus yang Mutiara Pagi, yang pengajian pagi itu. Sebetulnya yang paling saya suka itu yang kayak berita Jawa, yang bahasa-bahasa Banyumasan. Saya paling seneng,” ujarnya.
Ketertarikan tersebut memperlihatkan bahwa bagi sebagian pendengar, radio tidak hanya berfungsi sebagai media penyampai informasi. Penggunaan bahasa daerah dalam siaran juga dapat menjadi sarana untuk mempertahankan kedekatan dengan identitas dan budaya lokal.
Memasuki usia ke-81 tahun, Wawan berharap RRI Purwokerto dapat terus mempertahankan kedekatannya dengan masyarakat. Menurutnya, pendengar tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga bagian penting dalam keberlangsungan sebuah lembaga penyiaran.
“Harapan saya semoga RRI tetap jaya di udara dan menyatu dengan warga dan masyarakat. Selalu menyapa dengan pelanggan dan jangan sampai atau jangan pernah meninggalkan pelanggan. Karena pelanggan juga termasuk ikon,” harap Wawan.
Harapan tersebut sekaligus menunjukkan adanya hubungan dua arah antara RRI dengan pendengarnya. Setelah bertahun-tahun menjadi bagian dari keseharian masyarakat, keberadaan pendengar menjadi salah satu unsur yang turut membentuk perjalanan RRI.
Selain menyampaikan harapan, Wawan juga memberikan masukan terhadap program siaran yang menurutnya memiliki nilai khusus bagi pendengar. Ia mengaku lebih menyukai program-program yang menghadirkan unsur tradisional dan kebudayaan lokal.
“Kalo dulu kan setiap hari itu ada acara ketoprakan. Itu saya paling suka, paling seneng. Soalnya kalau ketoprak itu kan ceritanya menyentuh di hati,” kata Wawan.
Kekuatan cerita dalam ketoprak membuat program tersebut memiliki kesan tersendiri. Bahkan, cerita yang disampaikan melalui siaran radio dapat membangun keterlibatan emosional pendengar meskipun hanya didengarkan melalui suara.
“Jadi terkadang-kadang kita tersenyuh, kadang-kadang juga ikut nangis,” lanjutnya.
Karena itu, Wawan berharap program ketoprak dapat kembali hadir dalam siaran RRI. Ia mengaku masih mencari program tersebut ketika mendengarkan RRI pada hari Minggu, tetapi belakangan tidak lagi menemukannya.
“Itu pesen saya kalo bisa sekarang kan kalo saya cari di gelombang rri di hari minggu kok ketoprak ngga ada. Nah, saya sebagai pendengar setia lah harap kalo bisa ditayangkan kembali,” tambah Wawan.
Kritik yang disampaikan Wawan tidak terlepas dari kedekatannya sebagai pendengar yang telah mengikuti siaran RRI selama puluhan tahun. Program yang pernah menjadi bagian dari kesehariannya meninggalkan pengalaman yang membuatnya berharap agar siaran tersebut tetap dapat dinikmati oleh pendengar.
Mempertahankan kedekatan dengan pendengar menjadi hal penting bagi RRI. Di tengah perubahan teknologi dan munculnya berbagai platform digital, radio tetap memiliki pendengar yang memilih bertahan karena menemukan kenyamanan, informasi, hiburan, maupun kedekatan budaya melalui siaran.
“Ya kesannya ya seneng lah dan bisa menghibur untuk para pendengar setia Pro 1 RRI Purwokerto,” ucap Wawan.
Setelah sekitar dua dekade menjadi pendengar RRI, Wawan mengaku masih merasakan kesenangan setiap kali program yang disukainya hadir di udara. RRI baginya bukan sekadar media yang menyampaikan informasi, tetapi juga sumber hiburan yang telah menemani dirinya dan keluarga dalam keseharian.
Pertemuan dalam kegiatan Meet and Greet tersebut akhirnya bukan sekadar menjadi ruang pertemuan antara RRI dan pendengar. Lebih dari itu, pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa di balik perjalanan panjang RRI selama 81 tahun, terdapat masyarakat yang ikut tumbuh bersama siaran, menyimpan kenangan, menikmati program, sekaligus memberikan masukan untuk perjalanan RRI ke depan.
Kesetiaan pendengar menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Selama masih ada masyarakat yang menyalakan radio, menunggu program favorit, menikmati sapaan penyiar, hingga menyampaikan kritik dan harapan, hubungan antara RRI dan pendengarnya akan terus menjadi bagian dari perjalanan RRI Purwokerto.